Semut adalah serangga kecil yang paling sering kita jumpai dalam keseharian kita karena mereka hampir ada pada setiap tempat. Semut adalah serangga pekerja keras dengan cara bekerja sama atau gotong-royong. Mereka adalah makhluk yang selalu mempersiapkan segala sesuatu untuk kehidupan mereka. Mereka dapat tahu kapan saat akan turun hujan. Pada saat itu mereka akan membangun sarang mereka ke tempat yang lebih tinggi supaya tidak terkena banjir. Mereka juga selalu mempersiapkan persediaan makan mereka. Bisa kita lihat mereka selalu bekerja mencari makanan dan membawanya ke sarang mereka. Apabila makanan itu lebih besar, maka mereka akan menggotong bersama-sama makanan tersebut. Mereka mempersiapkan makanan untuk jangka waktu yang lama padahal mereka hanya hidup 40-60 hari saja. Untuk apa mereka melakukan hal tersebut? Mereka melakukannya karena mereka tahu bahwa mereka akan memiliki generasi penerus dan mereka mempersiapkan segalanya agar generasi penerus mereka tidak mati. Mereka ingin senantiasa generasi mereka dapat terus bertahan hidup dan dan selalu ada di bumi ini.
Maka seyogyanya kita mengambil 'ibrah dari binatang kecil ini bagaimana mereka bekerja dan mempersiapkan segalanya sedangkan mereka tahu bahwa mereka hidup tidak lama, namun mereka tetap bekerja dan mempersiapkan segalanya untuk generasi mereka.
Mari sejenak kita renungkan, apa yang telah kita lakukan dan persiapkan untuk hidup kita dan generasi penerus kita, sedangkan kita semua tahu bahwa umur kita hanya Allah SWT yang hanya bisa menjaminnya. Apa yang harus kita kerjakan untuk hidup kita? Apa yang harus kita kerjakan untuk generasi kita? Apa yang harus kita kerjakan dan kita persiapkan untuk generasi setelah kita? Jawabannya adalah amal shalih dan ilmu pengetahuan, baik pengetahuan agama maupun pengetahuan tentang dunia. Bukan harta dan bukan tahta yang harus kita kejar dalam hidup ini karena keduanya akan meninggalkan kita dan keduanya juga akan menjadi milik orang lain pada saat kita mati nanti.
Ketika Rasulullah saw. wafat, tiada satupun kepingan harta yang beliau tinggalkan untuk anak beliau dan tiada tahta yang beliau titipkan untuk anak-anak beliau, namun Rasulullah saw. meninggalkan amal shalih dan ilmu untuk anak-anaknya dan itu bisa membuat mereka menjadi manusia yang dihormati di dunia dan di akhirat.
Allah SWT juga berfirman, "Berbekallah kamu sekalian, maka sebaik-baiknya bekal adalah taqwa".
Na'imullah
Jumat, 17 April 2015
Jumat, 05 Desember 2014
Ini Gila Namanya
Kita pernah mengenal satu sama lain. Apakah itu kehendak Tuhan ataukah bukan. Aku juga pernah jujur terhadap diriku bahwa aku memiliki rasa dan asa padamu. Namun aku bingung dengan sikapmu. Memang begitulah wanita itu dicipta. Penuh misteri dan rahasia.
Mungkin inilah saat untuk aku menyerah sebelum semua terlambat. Aku sudah kehilangan akal dan cara. Yang aku tahu bahwa aku cinta kamu. Namun kamu selalu menampiknya dan kamu selalu bersikap manis padaku. Sebenarnya aku hanya butuh satu jawaban pasti dari semua yang telah kita lalui. Apakah kamu juga ingin mencintai seperti daku mencintai? Ataukah hanya sebatas rasa kagum yang kau miliki? Kau anggap apa diriku ini? Apakah mainan yang kapan saja siap kau sampahi? Ataukah stasiun yang kapan saja bisa kau singgahi? Aku juga punya hati. Punya cinta juga benci. Pernah berkata seorang Ali "Cintailah olehmu apa yang kamu cintai sewajarnya karena mungkin suatu saat nanti dia akan menjadi suatu hal yang kamu benci. Bencilah olehmu apa yang kamu benci sewajarnya karena mungkin suatu saat nanti dia akan menjadi suatu hal yang kamu benci".
Aku pun begitu juga, aku sepakat dengan dia dan perkataannya.
Aku sudah berulang kali jatuh cinta dan berulang kali merajut kisahnya. Namun berbeda dengan dirimu. Aku belum baik mengenalmu, tapi aku merasa damai ketika mengobrol denganmu. Aku belum tahu silsilah keluargamu, namun aku sudah yakin bahwa kamu memang pantas ku sunting. Aku belum pernah bicara empat mata denganmu, tapi aku sudah merasa seakan sudah sangat lama bersamamu. Aku jujur bahwa aku jatuh cinta padamu disaat pertama aku chatting denganmu.
Nuraniku berkata bahwa kamu memang pantas untuk ku cinta dan pantas untuk ku nikah, bukan pantas untuk ku pacari. Aku sama sekali tiada niat untuk memacarimu sebelum ku nikahi. Aku sama sekali tiada niat begitu. Aku hanya ingin tahu satu jawaban pasti darimu, apakah kamu mempunyai rasa sebagaimana yang aku rasa padamu? Kamu hanya cukup menjawab iya atau tidak, cukup itu dan tanpa alasan dan penjelasan.
Mungkin inilah saat untuk aku menyerah sebelum semua terlambat. Aku sudah kehilangan akal dan cara. Yang aku tahu bahwa aku cinta kamu. Namun kamu selalu menampiknya dan kamu selalu bersikap manis padaku. Sebenarnya aku hanya butuh satu jawaban pasti dari semua yang telah kita lalui. Apakah kamu juga ingin mencintai seperti daku mencintai? Ataukah hanya sebatas rasa kagum yang kau miliki? Kau anggap apa diriku ini? Apakah mainan yang kapan saja siap kau sampahi? Ataukah stasiun yang kapan saja bisa kau singgahi? Aku juga punya hati. Punya cinta juga benci. Pernah berkata seorang Ali "Cintailah olehmu apa yang kamu cintai sewajarnya karena mungkin suatu saat nanti dia akan menjadi suatu hal yang kamu benci. Bencilah olehmu apa yang kamu benci sewajarnya karena mungkin suatu saat nanti dia akan menjadi suatu hal yang kamu benci".
Aku pun begitu juga, aku sepakat dengan dia dan perkataannya.
Aku sudah berulang kali jatuh cinta dan berulang kali merajut kisahnya. Namun berbeda dengan dirimu. Aku belum baik mengenalmu, tapi aku merasa damai ketika mengobrol denganmu. Aku belum tahu silsilah keluargamu, namun aku sudah yakin bahwa kamu memang pantas ku sunting. Aku belum pernah bicara empat mata denganmu, tapi aku sudah merasa seakan sudah sangat lama bersamamu. Aku jujur bahwa aku jatuh cinta padamu disaat pertama aku chatting denganmu.
Nuraniku berkata bahwa kamu memang pantas untuk ku cinta dan pantas untuk ku nikah, bukan pantas untuk ku pacari. Aku sama sekali tiada niat untuk memacarimu sebelum ku nikahi. Aku sama sekali tiada niat begitu. Aku hanya ingin tahu satu jawaban pasti darimu, apakah kamu mempunyai rasa sebagaimana yang aku rasa padamu? Kamu hanya cukup menjawab iya atau tidak, cukup itu dan tanpa alasan dan penjelasan.
Hanya Gila
Kita pernah mengenal satu sama lain. Apakah itu kehendak Tuhan ataukah bukan. Aku juga pernah jujur terhadap diriku bahwa aku memiliki rasa dan asa padamu. Namun aku bingung dengan sikapmu. Memang begitulah wanita itu dicipta. Penuh misteri dan rahasia.
Mungkin inilah saat untuk aku menyerah sebelum semua terlambat. Aku sudah kehilangan akal dan cara. Yang aku tahu bahwa aku cinta kamu. Namun kamu selalu menampiknya dan kamu selalu bersikap manis padaku. Sebenarnya aku hanya butuh satu jawaban pasti dari semua yang telah kita lalui. Apakah kamu juga ingin mencintai seperti daku mencintai? Ataukah hanya sebatas rasa kagum yang kau miliki? Kau anggap apa diriku ini? Apakah mainan yang kapan saja siap kau sampahi? Ataukah stasiun yang kapan saja bisa kau singgahi? Aku juga punya hati. Punya cinta juga benci. Pernah berkata seorang Ali "Cintailah olehmu apa yang kamu cintai sewajarnya karena mungkin suatu saat nanti dia akan menjadi suatu hal yang kamu benci. Bencilah olehmu apa yang kamu benci sewajarnya karena mungkin suatu saat nanti dia akan menjadi suatu hal yang kamu benci".
Aku pun begitu juga, aku sepakat dengan dia dan perkataannya.
Aku sudah berulang kali jatuh cinta dan berulang kali merajut kisahnya. Namun berbeda dengan dirimu. Aku belum baik mengenalmu, tapi aku merasa damai ketika mengobrol denganmu. Aku belum tahu silsilah keluargamu, namun aku sudah yakin bahwa kamu memang pantas ku sunting. Aku belum pernah bicara empat mata denganmu, tapi aku sudah merasa seakan sudah sangat lama bersamamu. Aku jujur bahwa aku jatuh cinta padamu disaat pertama aku chatting denganmu.
Nuraniku berkata bahwa kamu memang pantas untuk ku cinta dan pantas untuk ku nikah, bukan pantas untuk ku pacari. Aku sama sekali tiada niat untuk memacarimu sebelum ku nikahi. Aku sama sekali tiada niat begitu. Aku hanya ingin tahu satu jawaban pasti darimu, apakah kamu mempunyai rasa sebagaimana yang aku rasa padamu? Kamu hanya cukup menjawab iya atau tidak, cukup itu dan tanpa alasan dan penjelasan.
Mungkin inilah saat untuk aku menyerah sebelum semua terlambat. Aku sudah kehilangan akal dan cara. Yang aku tahu bahwa aku cinta kamu. Namun kamu selalu menampiknya dan kamu selalu bersikap manis padaku. Sebenarnya aku hanya butuh satu jawaban pasti dari semua yang telah kita lalui. Apakah kamu juga ingin mencintai seperti daku mencintai? Ataukah hanya sebatas rasa kagum yang kau miliki? Kau anggap apa diriku ini? Apakah mainan yang kapan saja siap kau sampahi? Ataukah stasiun yang kapan saja bisa kau singgahi? Aku juga punya hati. Punya cinta juga benci. Pernah berkata seorang Ali "Cintailah olehmu apa yang kamu cintai sewajarnya karena mungkin suatu saat nanti dia akan menjadi suatu hal yang kamu benci. Bencilah olehmu apa yang kamu benci sewajarnya karena mungkin suatu saat nanti dia akan menjadi suatu hal yang kamu benci".
Aku pun begitu juga, aku sepakat dengan dia dan perkataannya.
Aku sudah berulang kali jatuh cinta dan berulang kali merajut kisahnya. Namun berbeda dengan dirimu. Aku belum baik mengenalmu, tapi aku merasa damai ketika mengobrol denganmu. Aku belum tahu silsilah keluargamu, namun aku sudah yakin bahwa kamu memang pantas ku sunting. Aku belum pernah bicara empat mata denganmu, tapi aku sudah merasa seakan sudah sangat lama bersamamu. Aku jujur bahwa aku jatuh cinta padamu disaat pertama aku chatting denganmu.
Nuraniku berkata bahwa kamu memang pantas untuk ku cinta dan pantas untuk ku nikah, bukan pantas untuk ku pacari. Aku sama sekali tiada niat untuk memacarimu sebelum ku nikahi. Aku sama sekali tiada niat begitu. Aku hanya ingin tahu satu jawaban pasti darimu, apakah kamu mempunyai rasa sebagaimana yang aku rasa padamu? Kamu hanya cukup menjawab iya atau tidak, cukup itu dan tanpa alasan dan penjelasan.
Ini Gila
Kita pernah mengenal satu sama lain. Apakah itu kehendak Tuhan ataukah bukan. Aku juga pernah jujur terhadap diriku bahwa aku memiliki rasa dan asa padamu. Namun aku bingung dengan sikapmu. Memang begitulah wanita itu dicipta. Penuh misteri dan rahasia.
Mungkin inilah saat untuk aku menyerah sebelum semua terlambat. Aku sudah kehilangan akal dan cara. Yang aku tahu bahwa aku cinta kamu. Namun kamu selalu menampiknya dan kamu selalu bersikap manis padaku. Sebenarnya aku hanya butuh satu jawaban pasti dari semua yang telah kita lalui. Apakah kamu juga ingin mencintai seperti daku mencintai? Ataukah hanya sebatas rasa kagum yang kau miliki? Kau anggap apa diriku ini? Apakah mainan yang kapan saja siap kau sampahi? Ataukah stasiun yang kapan saja bisa kau singgahi? Aku juga punya hati. Punya cinta juga benci. Pernah berkata seorang Ali "Cintailah olehmu apa yang kamu cintai sewajarnya karena mungkin suatu saat nanti dia akan menjadi suatu hal yang kamu benci. Bencilah olehmu apa yang kamu benci sewajarnya karena mungkin suatu saat nanti dia akan menjadi suatu hal yang kamu benci".
Aku pun begitu juga, aku sepakat dengan dia dan perkataannya.
Aku sudah berulang kali jatuh cinta dan berulang kali merajut kisahnya. Namun berbeda dengan dirimu. Aku belum baik mengenalmu, tapi aku merasa damai ketika mengobrol denganmu. Aku belum tahu silsilah keluargamu, namun aku sudah yakin bahwa kamu memang pantas ku sunting. Aku belum pernah bicara empat mata denganmu, tapi aku sudah merasa seakan sudah sangat lama bersamamu. Aku jujur bahwa aku jatuh cinta padamu disaat pertama aku chatting denganmu.
Nuraniku berkata bahwa kamu memang pantas untuk ku cinta dan pantas untuk ku nikah, bukan pantas untuk ku pacari. Aku sama sekali tiada niat untuk memacarimu sebelum ku nikahi. Aku sama sekali tiada niat begitu. Aku hanya ingin tahu satu jawaban pasti darimu, apakah kamu mempunyai rasa sebagaimana yang aku rasa padamu? Kamu hanya cukup menjawab iya atau tidak, cukup itu dan tanpa alasan dan penjelasan.
Mungkin inilah saat untuk aku menyerah sebelum semua terlambat. Aku sudah kehilangan akal dan cara. Yang aku tahu bahwa aku cinta kamu. Namun kamu selalu menampiknya dan kamu selalu bersikap manis padaku. Sebenarnya aku hanya butuh satu jawaban pasti dari semua yang telah kita lalui. Apakah kamu juga ingin mencintai seperti daku mencintai? Ataukah hanya sebatas rasa kagum yang kau miliki? Kau anggap apa diriku ini? Apakah mainan yang kapan saja siap kau sampahi? Ataukah stasiun yang kapan saja bisa kau singgahi? Aku juga punya hati. Punya cinta juga benci. Pernah berkata seorang Ali "Cintailah olehmu apa yang kamu cintai sewajarnya karena mungkin suatu saat nanti dia akan menjadi suatu hal yang kamu benci. Bencilah olehmu apa yang kamu benci sewajarnya karena mungkin suatu saat nanti dia akan menjadi suatu hal yang kamu benci".
Aku pun begitu juga, aku sepakat dengan dia dan perkataannya.
Aku sudah berulang kali jatuh cinta dan berulang kali merajut kisahnya. Namun berbeda dengan dirimu. Aku belum baik mengenalmu, tapi aku merasa damai ketika mengobrol denganmu. Aku belum tahu silsilah keluargamu, namun aku sudah yakin bahwa kamu memang pantas ku sunting. Aku belum pernah bicara empat mata denganmu, tapi aku sudah merasa seakan sudah sangat lama bersamamu. Aku jujur bahwa aku jatuh cinta padamu disaat pertama aku chatting denganmu.
Nuraniku berkata bahwa kamu memang pantas untuk ku cinta dan pantas untuk ku nikah, bukan pantas untuk ku pacari. Aku sama sekali tiada niat untuk memacarimu sebelum ku nikahi. Aku sama sekali tiada niat begitu. Aku hanya ingin tahu satu jawaban pasti darimu, apakah kamu mempunyai rasa sebagaimana yang aku rasa padamu? Kamu hanya cukup menjawab iya atau tidak, cukup itu dan tanpa alasan dan penjelasan.
Langganan:
Postingan (Atom)